Apakah kau pernah mendengar, atau
mengucapkan kalimat yang ditujukan kepada seseorang seprti berikut?
"Sebenarnya, hatinya baik,
jadi tak usah hiraukan jika ia berkata-kata yang tajam."
atau,
"Kata-katanya saja yang
menusuk, tapi sebenarnya hatinya baik."
Kawan, “Bukanlah seorang mukmin
orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka
berbuat/berkata-kata keji, dan orang yang berkata-kata kotor/jorok” (HR
Bukhori, Ahmad, Al-Hakim, dan Turmudziy dari Ibnu Mas’ud).
Lalu, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam” (HR Bukhari Muslim).
Lantas, jika menemukan orang yang
mengaku “berhati baik” tapi pada kenyatannya, ia sering berkata-kata “tajam”
dan berindikasi menyakiti hati orang, itu masih perlu dipertanyakan. Bahkan bisa jadi bertumpuk-tumpuk kebaikan yang ia lakukan, pada akhirnya terkikis
menipis habis karena kata-katanya yang mengiris pedis bikin hati menangis!
Kawan, "Tidak istiqomah iman
seseorang sebelum istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sebelum
istiqomah lisannya"(HR Ahmad).
Allah juga menegaskan, "Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang telah
dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat
lehernya.Yaitu ketika kedua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di
sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.Tiada satu ucapan pun yang
diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu
hadir." [Qâf/50:16-18]
Jangan sampai, kebaikan-kebaikan
yang kita lakukan sepanjang hidup, menjadi tak berarti karena ketajaman lidah
kita….
Wallahu a’lam.
#salamsugar_MariaTeduh
